Kamis, 05 Februari 2009

JTTC Jembatan Pariwisata Jepara-Dunia

Jepara, CyberNews. Hello, I would like to make reservation one suit room from 25-28 February. Can you arrange this for me? Demikian Pavel Setvak asal Republik Checnya, negara pecahan Uni Soviet meminta meminta informasi dari negaranya, lewat situs pariwisata yang langsung ditanggapi Jepara Tourism Center (JTC), pertengah Februari lalu. Dia bermaksud mendapatkan informasi penginapan, terkait rencana kunjungannya ke Jepara.

Ada ratusan penanya serupa dari mancanegara yang ingin tahu soal kebutuhan wisatawan asing jika ingin datang ke Jepara. Pengelola website di JTC, Muhammad Rifki Rusdani, memberikan data terakhir pengunjung website tersebut, baik domestik maupun mancanegara. Sejak diluncurkan 2 Februari 2008, hingga akhir bulan telah ada 504 pengunjung.

Sebanyak 70 persen merupakan wisatawan mancanegara, dan peringkat pertama berasal dari AS, lalu disusul Australia, Hongkong, baru negara-negara Eropa, Asia Timur, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Sisanya merupakan wisatawan domestik yang tinggal di Indonesia, dan sebagian lagi penduduk Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Perkembangan pada Maret, sejak awal bulan hingga Senin (17/3), telah ada 343 pengunjung website, dan kembali AS mendominasi, lalu disusul Australia, Italia, baru negara-negara Eropa Barat dan Timur. ''Saya memprediksikan pengunjung website yang ingin tahu tentang potensi pariwisata Jepara hingga akhir bulan ini akan meningkat dibanding bulan sebelumnya,'' kata Rifki yang juga alumni magister manajemen Universitas Indonesia Jakarta itu.

JTC yang berkantor mungil di Jl Arif Rahman Hakim, persis di depan Dinas Pariwisata Jepara, bisa dibilang jembatan baru untuk promosi wisata ke berbagai belahan dunia. Mereka tidak hanya mengunjungi website, namun sebagian datang langsung ke Jepara. Salah satu perintis JTC, Samsul Arifin, mengatakan, ada keselarasan antara program pemerintah dalam Visit Indonesian 2008 ini. ''Sebagian di antara mereka sudah datang langsung ke Jepara,'' kata Samsul yang juga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (NU) Jepara.

Para pengunjung website itu memiliki banyak latar belakang dan maksud. Namun sebagian besar ingin tahu lebih banyak soal potensi wisata. Pesona wisata bahari Karimunjawa adalah yang paling menjadi daya tarik. Informasi transportasi menuju kepulauan itu, penginapan, cuaca, dan kebudayaan masyarakat ingin mereka ketahui sebelum datang. Untuk masyarakat lokal keberadaan JTC bahkan menjadi tempat bertanya sales motor yang ingin mengembangkan bisnis. Sebuah bisnis kasino di Singapura, juga disebut pernah mengunjungi website tersebut.

Dengan menyambangi website gojepara.com, memang memungkinkan melihat potensi semua objek wisata. Tak hanya alam, tapi juga budaya dan kini dikembangkan kuliner. Cukup mengetik kata kunci: Jepara tourism, di mesin pencari Google maupun Yahoo, maka rumah informasi wisata Jepara akan muncul di halaman pertama.

JTC merintis jaringan pariwisata di tengah geliat pebisnis permebelan Jepara yang ingin menggaet kembali kepercayaan dunia. ''Kami memang sementara ini fokus menyediakan layanan informasi soal pariwisata, namun tidak menutup kemungkinan informasi bisnis masuk. Karena dua hal ini biasanya bisa datang bersamaan,'' lanjut Samsul.

JTC kini terobsesi untuk menyediakan layanan informasi serinci mungkin. Kabar terbaru, JTC mendapatkan lampu hijau dari Bappeda untuk bisa menampilkan potret Jepara yang diambil dari satelit 2007 lalu. Peta itu sementara ini belum bisa memotret seluruh Jepara. Kelak bisa diolah dalam website dan bisa memandu wisatawan mengenali jalanan di Jepara dan wisata bahari secara detail.

Perajin Jepara Menghadapi Krisis

PARA pengusaha mebel di Jepara saat ini dihadapkan pada suatu dilema yang sulit dan harus berpikir dengan dahi yang mengerut untuk lepas dari persoalan. Krisis global memang mengancam industri mebel, khususnya untuk pasar Amerika dan Eropa.

Mereka mengaku order menurun drastis. Menurut Ahmad Fauzi, ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Komisi Daerah (Komda) Jepara, saat ini untuk pangsa pasar Amerika cenderung turun cukup signifikan dari sisi permintaan.

Untuk para perajin, sebaiknya menghindari pasar negeri Paman Sam itu pada saat krisis global seperti sekarang ini. Dampak penurunan itu jelas dirasakan oleh para perajin.

Tetapi Fauzi menegaskan, penurunan order itu hanya kasusistik, tidak serta merta seluruh perajin Jepara mengalami kebangkrutan. ”Memang pangsa pasar para perajin tidak semuanya ke Amerika, mereka juga ekspor barang ke Eropa. Untuk krisis saat ini, dampak mulai terasa khususnya bagi perajin kelas menengah.

Ini hanya kasusistik. Tetapi jika krisis ini berkepanjangan, lama kelamaan industri mebel di Jepara juga akan mengalami kemunduran order,” jelasnya, Rabu (22/10).

Dia menambahkan, pasar mebel memang harus segera dari impitan krisis global. Jika pasar Amerika tidak menjanjikan, para perajin seharusnya mulai ancang-ancang membidik pasar domestik.

Pasar domestik dinilainya sangat berpotensi untuk menggantikan pasar Amerika dan Eropa. ”Transaksi di pasar domestik cukup bagus untuk saat ini. Pasar ini tidak terpengaruh dengan kondisi krisis global yang dialami Amerika. Cenderung permintaan semakin bertambah dibanding ekspor,” imbuhnya.

Selain pasar domestik, bidikan lainnya yakni Singapura dan Eropa Timur. Pasar ini menurutnya berpotensi besar menggantikan pasar Amerika dan Eropa yang saat ini masih gonjang-ganjing dengan krisis keuangan.

”Mebel Jepara sangat identik serta autentik. Mebel ini sudah punya pasar sendiri. Saya yakin di pasar selain Eropa dan Amerika, masih menerima mebel bikinan Jepara. Jangan lupakan efisiensi yang berdaya saing. Artinya, harga mebel ini bisa bersaing serta kompetitif untuk pangsa pasar global,” tegasnya.

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah saat ini dengan menaikkan suku bunga jelas memberatkan pelaku ekspor. Sebagian besar pengusaha mebel di Jepara bersimbiosis mututalisme dengan perbankan karena kucuran kreditnya. ”Rasionalisasi kebijakan harus dilakukan pemerintah dengan BI sebagai perbankan. Pemerintah harus memperhatikan permasalahan ini,” ucapnya.

Pandangan alternatif pasar lainnya yang dibidik oleh perajin Jepara juga diungkapkan Samsul Arifin, dosen ekonomi STIENU Jepara. Dia memaparkan, para perajin sebaiknya mengalihkan pasarnya tidak berorientasi ekspor saja, melainkan sudah menilik pasar domestik.

Pasar itu dinilainya masih bagus daripada Eropa dan keuntungan yang didapat cukup lumayan. ”Karena Indonesia itu negara aneh. Dalam artian, orangnya dalam kondisi krisis ekonomi tetapi masih mampu membeli,” ungkapnya.

Hal senada dikatakan Kabid Perdagangan Dinas Indagkop Kabupaten Jepara Salembayong, kemarin. Pengaruh krisis global memang sedikit banyak berpengaruh pada order para perajin.

Menurut Bayong, selain pasar domestik, pengalihan pangsa pasar ini dilakukan untuk pasar Eropa Timur, Timur Tengah, serta Asia. ”Krisis ini otomatis memengaruhi daya beli pasar. Saya memahami pasar Eropa dan Amerika saat ini mulai lesu terkait permintaan mebel dari Indonesia khususnya Jepara. Mereka memang tidak mempunyai daya beli untuk itu,” tandas Bayong.

Jepara dikenal sebagai Kota Ukir yang mencapai tren keemasannya pada era 1997-1998. Pada saat itu nilai 1 dolar AS Rp 2.500 menjadi Rp 15.000.

Sebagian pelaku ekspor mebel, perajin menggunakan transaksi dalam bentuk dolar Amerika. Tapi semenjak 2001, tren peningkatan ekspor ke mancanegara menurun drastis. Ini dibuktikan dengan banyaknya gudang mebel yang dijual karena kredit macet dan terjerat utang bank. Cyber

Fokuskan Promosi Daerah

EPARA - Promosi dampaknya tidak bisa dirasakan langsung. Meski demikian, promo berbagai potensi daerah ke luar Jepara bahkan ke luar negeri melalui internet, pameran dan lain-lain harus dikembangkan terus karena kunci kemajuan dunia pariwisata terletak pada faktor ini.

Samsul Arifin, salah seorang pengurus Persatuan Hotel dan Restoran (PHRI) Kabupaten Jepara mengatakan potensi wisata di Jepara sangat banyak dan beragam. "Mulai dari potensi alam dan non alam sangat banyak serta bervariasi. Sudah selayaknya potensi ini dikembangkan secara maksimal," tandasnya.

Promosi memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Meski demikian, jika upaya ini dilakukan secara kontinyu dan berkelanjutan, maka hasilnya bisa dinikmati pada masa-masa yang datang.

Bulan Kunjungan Jepara salah satu program kunjungan wisata yang digagas dan dikembangkan Pemkab Jepara saat ini menurut Samsul patut diapresiasi. "Ke depan berbagai program serupa juga mesti dibuat secara berkesimbungan sehingga memberikan efek positif," ungkap pria yang bertubuh gemuk ini baru-baru ini.

Bukan hanya Pemkab yang punya peran melakukan promosi. Masyarakat termasuk pelaku usaha di bidang pariwisata seperti travel, sentra-sentra industri maupun masyarakat pada umumnya ke depan bisa bersama-sama mempromosikan potensi wisata di Jepara.

"Bagaimana memanfaatkan dan memaksimalkan potensi dengan melibatkan masyarakat secara luas hasilnya lebih efektif. Partisipasi warga bisa mempercepat langkah promo. Di tingkat terkecil misalnya, promosi dari mulut ke mulut bisa membantu kunjungan wisata ke Jepara," tandasnya. (zis)

Kembangkan Obyek Wisata Tersembunyi

JEPARA- Objek-objek wisata yang tersembunyi selayaknya juga harus dikembangkan. Hal itu untuk memberikan lebih banyak referensi masyarakat pengunjung yang meminati dunia pariwisata di Bumi Kartini. Pengembangan objek wisata saat ini dinilai masih terkonsentrasi ke lokasi-lokasi mapan, seperti Pantai Kartini dan Bandengan. Padahal banyak sekali potensi yang belum tersentuh.
Demikian disampaikan pegiat Pusat Informasi Pariwisata (JIC) Jepara, Samsul Arifin, Jumat (23/5). ''Kalau potensi objek wisata yang tersembunyi ini dikembangkan, bisa memberikan banyak pilihan bagi calon pengunjung,'' katanya.

Potensi Dikembangkan
Objek-objek tersembunyi itu selain bisa dilihat di daratan Jepara, juga pantai di Karimunjawa. Desa-desa di lereng Gunung Muria potensial untuk dikembangkan. Desa Tempuir dan Damarwulan adalah dua di antaranya. Dua desa itu juga memiliki kekhasan minuman, berupa kopi yang diproduksi masyarakat setempat. Kopi dari dua desa ini memiliki kekhasan rasa, dan sedikit banyak bisa menjadi pelengkap kuliner dua desa yang dilalui Kali Gelis dengan segala panorama perbukitan dan keteduhan udara.
Di titik pantai, sebenarnya Pantai Bondo, Kecamatan Bangsri, juga tidak terlalu kalah menarik dengan Pantai Bandengan. Sama-sama berpasir putih, pantai ini telah lama dikunjungi masyarakat setempat. ''Jika dikembangkan lebih bagus, Pantai Bondo juga akan menjadi pilihan lain objek wisata pantai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sebelah utara,'' jelas dia yang juga dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi NU (Stienu) Jepara itu.
Dia juga menyoroti tentang Karimunjawa, kawasan wisata yang terkenal, namun belum banyak warga Jepara yang bisa sampai di sana. Jika sarana transportasi antarpulau di Karimunjawa menjadi kendala pengunjung untuk mengarunginya, maka perlu juga dibikin miniatur Karimunjawa di salah satu titik. Para pelajar atau elemen masyarakat lain yang ke Karimunjawa dan memiliki waktu luang singkat, cukup mengunjungi miniatur itu. ''Ini potensi yang belum dikembangkan dan akan sangat membantu,'' lanjutnya.
Pihaknya kini telah mengembangkan informasi tentang pariwisata, dengan mendirikan Radio Wisata Jepara di 88,8 FM. Sudah sebulan ini radio yang banyak memberikan porsi siaran tentang pariwisata Jepara itu mengudara, dengan konsep siaran 50 persen berbahasa Inggris, 30 persen Bahasa Indonesia, dan 20 persen berbahasa Jawa khas Jepara.(H15-79)

Export Mebel Jepara Bisa Turun

Krisis keuangan global dengan Amerika Serikat, dampaknya bisa menimpa industri permebelan yang menjadi salah satu penyangga ekonomi Jepara.

Namun tak sepenuhnya dampak yang menimpa itu merugikan. Satu sisi kondisi itu diperkirakan ada nilai plusnya. Jika krisis tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama, maka masyarakat di tingkat bawah bisa terkena imbasnya.

Ha itu dikemukakan oleh Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jepara Ahmad Fauzi dan dosen Ilmu Ekonomi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama (STIENU) Jepara Samsul Arifin.

Fauzi menjelaskan, satu-satunya nilai plus dari dampak krisis keuangan global itu adalah menguatnya nilai tukar mata uang dolar AS atas rupiah. ”Untuk ekspor mebel, tentu ada sedikit marjin keuntungan dari fluktuasi dua mata uang tersebut,” kata Fauzi.

Namun dia buru-buru menyatakan, dampak krisis keuangan global terhadap industri mebel saat ini berbeda dengan fenomena 2008, dimana jatuhnya rupiah hingga kisaran Rp 18.000/dolar AS membawa keuntungan besar bagi para eksportir furnitur Jepara.

Itu karena pasar global ketika itu, terutama AS dan negara-negara Eropa relatif stabil.

Sisi negatif dari dampak krisi global saat ini adalah kemungkinan menurunnya permintaan produk furnitur dari Jepara ke pasar-pasar yang terkena dampak serius keuangan global seperti AS dan Eropa.

Ekspor Turun

Sebagai negara tujuan ekspor mebel Jepara, AS kini menempati peringkat kedua setelah negara-negara Eropa. Penurunan nilai ekspor, juga akan menekan produksi.

”Jika permintaan negara-negara pengimpor menurun, jelas sektor usaha akan mengurangi produksi dan secara langsung ini bisa berpengaruh pada sektor lain seperti tenaga kerja,” jelasnya.

Di sisi lain, melemahnya rupiah juga bisa memacu kenaikan harga-harga bahan baku pembuatan mebel. Ini akan lebih menyulitkan, karena kenaikan harga bahan baku lazimnya tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual.

Langkah yang ditempuh pemerintah dengan menaikkan suku bunga bank juga bisa berdampak negatif, karena industri mebel Jepara amat berkait erat dengan sektor perbankan dan jelas akan makin membebani kreditur.Cyber

Pengembangan Pantai Bondo Jepara

(Suara Merdeka, Budi Cahyono) KABUPATEN Jepara memang dianugerahi deretan pantai berpasir putih. Pantai-pantai ini memang tidak kalah dengan Kuta di Bali. Sebut saja dua pantai yang sudah menjadi ikon Kota Ukir, yakni Pantai Kartini dan Tirto Samudro atau yang lebih dikenal dengan Bandengan.
Keberadaan dua pantai ini sudah dikenal sentero negeri ini, disamping pasir putih, mandi laut, dan yang tidak kalah pentingnya panorama sunset (matahari terbenam). Kalau boleh ditilik lebih rinci lagi, ada beberapa pantai yang berpasir putih berpotensi untuk dikembangkan dan menjadi idola serta ikon baru, salah satunya Pantai Ombak Mati yang terletak kurang lebih 10 km ke arah utara Kota Jepara tepatnya di Desa Bondo, Kecamatan Bangsri.
Pantai Ombak Mati ini sangat cocok untuk wisata keluarga selain nyaman, keindahannya tak kalah di banding Pantai Kartini dan Bandengan. “Menurut rencana, jika disetujui, tahun depan pihak kami akan melakukan pengembangan di Pantai Bondo. Daerah tersebut layak untuk menjadi daerah tujuan wisata dan menjadi ikon baru Jepara,” ungkap Kabid Pengembangan dan Pengelolaan Pariwisata Disparta Kabupaten Jepara A Juli Susanto.
Menurutnya, ada kendala yang harus dihadapi oleh Pemkab Jepara saat ini untuk pengembangan tempat tersebut. Yakni status tanah yang ada di sekitar tempat tersebut. Saat ini tanah di bibir pantai itu sudah berstatus kepemilikan oleh masing-masing warga.
“Itulah kendala kami untuk pengembangan wilayah tersebut. Setidaknya membutuhkan dana besar untuk pembebasan tanah di wilayah itu,” imbuh Juli.
Setidaknya, dibutuhkan dana Rp 4-5 miliar, itu pun dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan tidak hanya dalam tahun anggaran 2009. Tetapi terus dilakukan hingga sarana dan prasaran betul-betul siap termsauk dengan masyarakatnya. “Kalau masyarakatnya sudah sangat antusias menyambut rencana ini,” tandasnya.

Benahi Pengelolaan
Selain menyiapkan segala sesuatunya, Samsul Arifin, wakil ketua Dewan Pariwisata Jepara mengatakan, pembangunan jalan menuju ke arah tersebut memang harus diperhatikan. Saat ini jalan menuju pantai tidak beraspal dan sempit. “Rencana pengembangan ke arah yang lebih baik memang harus didukung besama. Sarana dan prasarana diharapkan bisa lebih baik dari sekarang. Pantai di Jepara tidak kalah dengan Bali, tinggal pengelolaannya saja yang perlu dibenahi,” tegasnya.
Dengan demikian, Samsul mengharapkan agar ketiga unsur yang terlibat di dalamnya, Pemkab, pelaku pariwisata, dan masyarakat sendiri bisa berjalan berdampingan demi kemajuan potensi alam dan pengelolaan Pantai Bondo. Yang menjadi catatan terpenting Samsul adalah, warga harus sudah siap menerima kehadiran turis dan budaya mancanegara.
“Kami selaku pelaku wisata siap mendukung Pemkab dan masyarakat untuk pengelolaan Pantai Bondo. Tidak hanya itu saja, pengembangan ke arah wisata diharapkan lebih merata,” imbuh Dewan Penasihat PHRI Jepara ini.
Pengembangan wisata di daerah tersebut disambut baik oleh Sulaiman warga dan perangkat Desa Bondo. Dirinya memang sudah mengetahui rencana tersebut, secara garis besar warganya siap membantu program Pemkab.
“Kami senang-senang saja ada pengembangan wilayah Bondo ini.Tetapi pembangunan itu nantinya jangan sampai merusak ekosistem dan sejarah di Desa Bondo,” tegasnya. (36)

Pengelola JTTC

Untuk mengembangkan beragam potensi Jepara, Jepara Trade and Tourism Center, bekerja sama dengan Dinas Indagkop Jepara menyelenggarakan GEBYAR TROSO 2008 yang berlangsung tanggal 19-21 Oktober 2008 di Gedung JTTC, Jl Raya Jepara Kudus KM 11.5 Rengging Pecanggaan Jepara. Untuk memeriahkan kegiatan ini, disediakan kegiatan festival musik, peragaan busana oleh Duta Jepara 2008 dan permainan anak. Festival Musik dan Peragaan Busana diselenggarakan pada hari Selasa, 22 Oktober 2008 mulai pukul 14.00-22.00 WIB.

Menurut Samsul Arifin, SE, MM, Koordinator JTTC, “Gebyar Troso ini kami selenggarakan karena ingin Jepara tidak hanya berkembang dalam industri mebel, tetapi juga berkembang dalam industri lainnya, termasuk industri tenun Troso.”

Saat ini Industri Troso telah menghasilkan inovasi-inovasi produk baru, tidak hanya diperuntukkan untuk pegawai negeri tetapi juga untuk masyarakat umum. Gebyar Troso ini untuk menepis anggapan bahwa kain Troso ini hanya sesuai untuk pegawai negeri. Pameran ini menampilkan Tenun Ikat mesces, jaranan, katun, sutra, hiasan dinding, tumanggal dengan desain-desain terbaru, yang sebagian sudah diekspor. Dari segi bentuk, pameran ini menampilkan baju, sarung, taplak, selendang, blangket, ekstra, king.

Gebyar Troso ini adalah pameran untuk lebih memperkenalkan produk tenun Troso kepada masyarakat Jepara dan para wisatawan yang berkunjung ke Jepara. Pameran ini bertujuan membangun pengenalan, apresiasi kebanggaan warga Jepara pada produk tenun Troso. Kebanggaan tersebut perlu dibangun karena akan menjadi sarana paling efektif dalam mempromosikan dan mengembangkan industri ini. Dan yang akan memperoleh manfaat dari perkembangan ini pada akhirnya adalah warga Jepara sendiri.

Penyelenggaraan Gebyar Troso ini merupakan implementasi dari fungsi JTTC sebagai pusat promosi dan informasi potensi Daerah. JTTC punya empat fungsi pelayanan pada masyarakat: pusat promosi, klinik Hak Kekayaan Intelektual, Pusat pengembangan desain, Informasi Pariwisata dan Potensi Daerah.